Rabu, 04 Januari 2017

Ini Indonesiaku, Mana Indonesiamu!

Wonderful Indonesia: The Journey to a Wonderful World

Indonesia Adalah Kita

Largest Economies in the World 2016 GDP (PPP) | IMF

Global Competitiveness Report 2015-2016

10 Best World Bank Moments 2016

Which Countries Have The Best Education?

Top 10 Best Education Systems in the World 2014

PISA - Measuring student success around the world

OECD PISA 2015

Social Media Return on Relationship with Ted Rubin & Rob Farrell

AdWords update April 2016 with Rob Farrell

SEO Audit - Part 3: Prioritise, Plan, Implement - Sept 18th @ 10am GMT

SEO Audit - Part 2

DMI Webinar Series - Technical SEO Audit (Part 1 of 3)

Senin, 02 Januari 2017

Minang dan Jokowi


Oleh :  Prof  Dr  Irwan Prayitno MSc 
Tiba-tiba saja etnis Minang menjadi perbincangan skala nasional ketika sebuah lemBlog Irwan Prayitnobaga survei (Burhanudin Muchtadi) menyampaikan siaran pers kepuasan orang Indonesia terhadap kinerja Presiden Joko Widodo atau biasa dipanggil Jokowi. Dalam siaran pers tersebut dinyatakan, tingkat kepuasan warga dari etnis Minang terhadap kinerja Jokowi adalah yang terendah dibanding warga dari etnis lain yang ada di Indonesia. Hal ini menjadi perbincangan hangat para netizen. Persepsi positif dan negatif bermunculan dan menjadi bahasan diskusi yang menarik.

Warga dari etnis Minang yang puas terhadap kepemimpinan Jokowi adalah sebesar 36,1% dan yang kurang puas sebesar 63,9%. Survei ini dilakukan tanggal 18-29 Januari 2016 oleh Indikator Politik Indonesia. Angka ini langsung mengingatkan kita kepada hasil pemilu presiden tahun 2014 di Sumbar di mana pasangan Jokowi-JK memperoleh suara 23,1% dan pasangan Prabowo-Hatta memperoleh 76,9% yang merupakan prosentase tertinggi di Indonesia.

Angka yang tak jauh beda antara kepuasan terhadap kinerja Jokowi dengan hasil perolehan suara pilpres 2014 ini mungkin memiliki korelasi atau relevansi yang layak didiskusikan oleh para pakar dan akademisi. Baik dari segi sosial, politik, budaya, maupun dari pelaku survei sendiri.

Jika melihat rekam jejak kepemimpinan Jokowi, maka baru ketika menjadi Presiden RI orang Minang merasakan kepemimpinan Jokowi. Sementara ketika menjadi Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta bisa dibilang bahwa orang Minang (khususnya warga Sumbar) belum merasakan kepemimpinan Jokowi. Oleh karena itu, ketidakpuasan orang Minang ini perlu penjabaran lebih detil. Apakah ketidakpuasan ini berarti Jokowi melakukan diskriminasi terhadap orang Minang? Mengapa etnis lain tingkat kepuasannya tinggi? Mengapa hanya etnis Minang yang tingkat kekurangpuasannya tinggi?

Jika hasil survey menyebut bahwa orang Indonesia puas dengan kinerja Jokowi, maka seharusnya ini merata di seluruh wilayah, dan tidak ada ketimpangan yang besar untuk satu wilayah. Demikian juga ketika berbicara masalah kepemimpinan, tidak ada diskriminasi yang dilakukan Jokowi selaku presiden kepada masyarakat Sumbar.

Salah satu hal yang bisa menjawab pertanyaan tadi adalah budaya yang ada pada orang Minang ketika melihat pemimpin yang biasa disingkat 3T. T pertama adalah ‘takah’, yaitu performance, postur tubuh yang bagus, rupawan, gagah, penampilan yang menarik dan nampak berwibawa. Orang Minang akan melihat apakah seseorang memiliki ke’takah’an yang memadai yang diperlihatkan dari sikap, perilaku, tampilan, cara bicaranya di depan publik atau cara menyampaikan pikiran melalui lisan dan tulisan, serta bagaimana gaya memimpinnya. Bagaimana bahasa tubuhnya dalam berkomunikasi di depan publik.

T kedua adalah ‘tageh’, yaitu tegas, berani, kuat, kokoh, berpendirian dan muda. Orang Minang akan melihat apakah seorang pemimpin itu mampu menjadi tumpuan harapan rakyatnya. T ketiga adalah ‘tokoh’. Orang Minang akan menilai apakah seorang pemimpin layak untuk menjadi tokoh bagi mereka, mampu memberikan keteladanan, layak didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Ketokohannya juga diakui dalam skala yang lebih luas lagi. Keilmuannya juga sudah terbukti dan diakui, baik ilmu agama, adat, dan akademik.

Sementara Jokowi sendiri tampil di publik dengan gaya “apa adanya” dan “dari sononya” dengan wajah yang “ndeso” serta cara bicara “rakyat kebanyakan” yang ternyata digemari oleh masyarakat Indonesia sehingga dalam pemilihan presiden 2014 lalu meraih suara terbanyak. Namun jika melihat 3T tadi, penampilan Jokowi rupanya kurang “matching” dengan budaya yang ada pada orang Minang. Sehingga mayoritas rakyat Sumbar cenderung memilih Prabowo. Figur Prabowo dianggap lebih sesuai dengan selera orang Minang. Begitu juga pada pilpres 2 kali sebelumnya, SBY menang telak di Sumbar. Kecenderungan ini pun terjadi pada Pilkada dan Pemilu.

Sedangkan jika melihat dari segi penerimaan, orang Minang sudah menerima Jokowi sebagai Presiden RI. Ini dibuktikan dengan kondisi di Sumbar yang aman dan tertib. Tidak ada demo besar-besaran menentang pemerintah misalnya. Bahkan dari sisi pemerintahan, seluruh pemerintahan kota dan kabupaten serta provinsi ikut mensukseskan program pemerintah pusat.

Selaku Gubernur Sumbar yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah, saya juga bisa memastikan bahwa loyalitas masyarakat maupun pemerintah daerah di Sumbar kepada pemerintah pusat tetap terjaga hingga kini. Ini bisa dibuktikan dengan tidak adanya organisasi atau kelompok separatis pengacau keamanan. Bahkan Sumbar adalah salah satu daerah teraman di Indonesia. Animo masyarakat Sumbar yang antusias terhadap pembangunan yang bertujuan kesejahteraan rakyat adalah realita yang ada di satu sisi.

Maka bisa disimpulkan, masyarakat Minang memiliki sikap realistis, rasional, dan logis di satu sisi, dan punya selera tersendiri (budaya) di sisi lain. Dan keduanya itu ternyata bisa berjalan masing-masing tanpa saling menjatuhkan. ***
Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

http://irwan-prayitno.com/2016/02/minang-dan-jokowi/

TJ Kalau Kita Ngurus Surat Surat Tapi Dipersulit, Ujung Ujungnya Duit, B...

JOKOWI HARUS DI DOAKAN.UST KHALID BASALAMAH

NASIHAT UNTUK PARA PEMBENCI PRESIDEN JOKOWI

USTADZ BANGSA ITU BERNAMA JOKOWI.

( Oleh : Iyyas Subiakto ) Lamat2 masih Teringat saat Beliau Menolak pembongkaran Pasar tradisional Solo utk dijadikan Pasar Modern, Gubernur Jateng saat itu Bibit Waluyo, mengatakan Walikota Goblok, Jokowi hanya Tersenyum, pada Pilkada periode 2 Beliau menang 93% kalau tidak salah, itulah hasil Tertinggi Pilkada selama Masa Reformasi. Tidak lama setelah itu Beliau menjadi Gubernur DKI dan 1,5 thn kemudian Menjadi Presiden RI ke 7. Banyak Orang under Estimated atas Kemampuannya termasuk Jusuf Kalla Sendiri, Dia Ndeso, Plonga Plongo, tidak Tegas, Anak PKI, Anak Cina, Kristen, Kayak kodok, malah Dhani bilang kayak Anjing dan Babi. Presiden ke 7 dan Presiden ke 5 non Militer, presiden yg Jarang bersantai di Istana, Presiden yg buat Paspampres repot Karena tdk diizinkan Menghidupkan Sirine saat Jalan, Selalu tiba2 Berhenti ditengah Kumpulan Rakyat dipinggir Jalan, Presiden yg tidak Menggubris Fitnah, Bahkan makian yg Begitu keras menghujatnya. Duduk di Istana tidak membuatnya Terkesima, Anak2nya tetap Seperti biasa, Jualan Martabak dan Kakaknya tidak Diterima jadi PNS, Istrinya nyaris setiap Pagi belanja Kepasar Belakang Istana Bogor kalau Mereka Menginap disana, Pulang ke Solo dgn Pswt kelas Ekonomi, Selendang berjuntai Dengan rambut Digerai, Dia tidak Canggung dan tidak Merasa tersanjung Saat Orang berselfie Ria Dia layani dgn Senyum Sederhananya, Sesederhana Kehidupan dan Hatinya. Amankah Mereka, Pasti Aman dan Nyaman karena Mereka telah Selesai Dengan Dirinya, Mereka, Tidak butuh Embel2, Jokowi dgn Baju Putih tanpa Asesories, bahkan Jam tanganpun Jarang ada Dipergelangan Tangannya, Kita yg Melihatnya yg tidak Nyaman, kenapa Orang Sesederhana itu, Bersungguh2 Bekerja utk Rakyatnya tanpa Mengenal Lelah dan Waktu, masih Terus Dihujat, Difitnah, Dihambat, Dilecehkan oleh Orang2 yg belum Move on bahwa Jokowi itu Presiden Terpilih, bukan Penunggang kuda Dengan Topi laken dan Tongkat Komando yg Memaksakan Dirinya Tinggal di Istana bak Raja. Bangsa ini telah Menerima sebuah Hadiah Luar biasa Dari Allah, Seorang Pemimpin yg datang Ditengah Pesta pora Perampok Uang dan Harta Negara tanpa Rasa Malu dan Risi Karena Ususnya sdh Bukan 12 Jari tapi Mungkin sudah Sepanjang jalan Gunung Sahari. Rencana Busuk, Penekanan, dan Segala macam cara Menjatuhkan sudah Begitu sangat Direncanakan, cuma Tuhan yg masih Sayang dan Menghindarkan Kehancuran bagi Bangsa yg Lahirnya Dari Perjuangan Bukan Ngemis minta Kemerdekaan. Hai Anak Bangsa yg Masih Gelap mata, Tidak usah Kalian Terus berusaha utk Mengambil sesuatu Yg bukan Kalian Punya, Belajarlah Pada yg ada, karena Kelak Kita akan Menjadi sebuah Bangsa yg Digdaya, Bukan karena Takut Kepada Amerika, Bermain mata dgn Cina, me-nunduk2 dgn Rusia, Kita bisa Berdiri dgn Kepala Tegak dan Berkata " KAMI BANGSA INDONESIA RAS ASIA " Yg Sejajar dgn Kalian, karena Kami Dipimpin Seorang GURU BANGSA yg SEDERHANA BERJIWA PEMBELA UTK RAKYATNYA. KAMI INDONESIA SEBENAR2NYA. 2017, tahun kebangkitan kebenaran yg sdh lama dipinggirkan. TERIMA KASIH TUHAN TELAH MEMILIH JOKOWI UTK NEGERI KAMI

SATU INDONESIAKU

THE MAKING OF 'SATU INDONESIAKU'

Satu Indonesia - Megahnya Orkestra di Tangan Erwin Gutawa